Hukum, Syarat Sambutan Tahun Baru Masehi



PANDANGAN PERTAMA : Ustaz Haji Zaharuddin Hj Abd Rahman


Soalan 

Saya pernah terbaca bahawa haram bagi kita umat Islam menyambut perayaan Tahun Baru pada malam 31 Disember? Apa pandangan ustaz dalam perkara ini?


Jawapan Ust Zaharuddin

Pertamanya, sebagai umat Muhammad SAW, kita di ajar untuk mengira peredaran hari menggunakan bulan Islam, ia terlebih afdhal. Pengiraan zakat perlu menggunakan bulan Islam bagi mengetahui "hawl" (tempoh wajibnya) sudah sampai atau belum. Justeru, secara umumnya adalah lebih baik untuk kita mengingati bulan Islam ini bagi terus menjaga identity Islam yang tersendiri.

Adapun, menyambut tahun baru Masehi (yang dikira menurut awal kelahiran Nabi Isa as), menurut pandangan saya, ia adalah HARUS secara bersyarat. Syarat-syaratnya seperti berikut :-

Sambutan tersebut dilakukan atas asas ‘Uruf atau ‘Adat dan bukannya di anggap sebagai suatu upacara keagamaan. Jika ia diasaskan atas dasar ibadah maka ia perlu mempunyai sandaran dalil yang jelas. Bagaimanapun jika menyambutnya atas asas adat dan diisi dengan progam keagamaan, maka saya masih merasakan HARUSNYA kerana ia termasuk di bawah umum kelebihan majlis ilmu.

Justeru, sambutan tahun baru menurut adat setempat adalah HARUS DENGAN SYARAT berdasarkan penerimaan Islam terhadap adat yang tidak bercanggah dengan Islam. Kaedah Islam yang menerima adat seperti ini adalah " Al-‘Adat Muhakkamah"


Ertinya : "Adat yang tidak bercanggah dengan Syara' boleh menentukan hukum sesuatu perbuatan dan tindakan". (Rujuk Al-Madkhal al-Fiqhi Al-‘Am, Syeikh Mustafa Az-Zarqa, 2/885 ; Syarh alQawaid al-Fiqhiyyah, Syeikh Ahmad Az-Zarqa, ms 219).

Terdapat satu keadah lain berbunyi : " Innama tu'tabaru al-‘Adat iza attaradat aw ghalabat "

ertinya : Sesungguhnya diiktiraf sebagai adat (yang tidak bercanggah) apabila ianya berterusan dilakukan dan dilakukan oleh majority". (Al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Ali Ahmad An-Nadawi, ms 65)

Tiada percampuran rambang lelaki dan wanita yang bukan mahram yang dikebiasaan membawa kepada maksiat. Bagaimanapun, syarat ini hampir mustahil untuk dijaga pada zaman ini kecuali di Kelantan atau dalam sebuah Negara yang pemimpin dan rakyatnya mempunyai ilmu agama yang baik. Justeru, sambutan akan menjadi haram jika syarat ini tidak dijaga.

Tidak dicampur adukkan dengan hiburan-hiburan yang bertentangan dengan kehendak Islam. Seperti lagu-lagu memuji muja kekasih, wanita, arak. Tidak kira samada ianya lagu biasa atau nasyid (terutamanya dengan kebanjiran kumpulan nasyid hari ini tersasar dari tujuan asal mereka sehingga memperkenalkan lagu-lagu memuji-muja wanita sebagai kekasih).

Kandungan majlis sambutan ini juga mestilah bertepatan dengan kehendak syara'. Majlis sambutan tahun baru dengan penganjuran majlis ilmu sebagai mengambil sempena cuti umum adalah diharuskan pada pandangan saya.

Sekian.
--


PANDANGAN KEDUA: Paling sedikit ada 3 kerusakan di Malam Tahun Baru


Kerusakan PERTAMA : Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Seperti telah kami kemukakan dalam sejarah di atas bahwa perayaan tahun baru sama sekali bukanlah tradisi kaum muslimin, namun perayaan tradisi tersebut adalah hasil import dari negeri kafir dan diadopsi serta dimeriahkan oleh kaum muslimin. Sehingga merayakannya berarti meniru-niru orang orang-orang kafir. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah mengabarkan bahwa kaum muslimin akan mengikuti jalan mereka.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ .فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »


“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jejak orang-orang sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persi dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?”3

Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”4

An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro' (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”5

Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang kafir diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah badan. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”6 Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).7

Kerusakan KEDUA: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru

Aneh betul. Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini adalah dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka.Namun diantara kita ada yang berpendapat. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama'ah di masjid.. Itu tentu lebih manfaat dan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh melakukan suatu amalan yang dibuat-buat. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari'atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.

Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”
Maka niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.”8

Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

Perayaan semacam tahun baru juga sudah ada di masa silam. Namun tidak pernah di antara para ulama yang mensyari'atkan pada kaum muslimin agar hari itu tidak sia-sia untuk melakukan dzikir dan amalan lainnya. Para ulama seringkali menyatakan,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.” Ibnu Katsir mengatakan, “Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.”9 Berarti yang tidak mereka lakukan, lalu dilakukan oleh orang-orang setelah mereka adalah perkara yang jelek. Maka begitu pula halnya kita katakan pada perayaan tahun baru. Seandainya perayaan tersebut adalah baik, tentu para sahabat akan mendahului kita dalam melakukannya.

Kerusakan KETIGA:

Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru
Karena kita ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini.

Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, ”Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah.


Footnote:
1 Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
2 Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts 'Ilmiyyah wal Ifta', 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi' Al Ifta'.
3 HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
4 HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa'id Al Khudri.
5 Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya' At Turots Al 'Arobiy, cetakan kedua, 1392.
6 HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
7 Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
8 HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
9 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/278-279, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
10 Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.


LEBIH LENGKAP BUKA SUMBER:
http://www.facebook.com/home.php?#/notes/izzah-islam/sepuluh-10-kerusakan-parah-dalam-perayaan-tahun-baru/230153766005


Tarbiyah: Puasa Hari ke 13,14,15


Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
“Tidaklah seorang hamba yang mengerjakan puasa satu hari kerana Allah, melainkan Allah menjaga dirinya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun kerana puasanya yang sehari itu.”
(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ramai mempunyai persepsi bahawa puasa minimum 3 hari setiap bulan itu adalah berpuasa dengan memilih pada mana-mana 3 hari isnin atau khamis dalam satu bulan.


Yang disebut-sebut  dengan berpuasa 3 hari pada satu bulan adalah berpuasa 3 hari di pertengahan bulan hijriah. Manakala puasa isnin khamis adalah tetap isnin dan khamis.


Cuma ramai yang memandang cukuplah berpuasa minimum 3 hari per bulan dan pilihan harinya adalah pada mana-mana hari isnin atau khamis bagi memenuhi tuntutan puasa sunat dalam amal fardhinya.


Kaum Muslimin khasnya para du’at  tidak seharusnya mengambil persepsi cukuplah minimum berpuasa 3 hari per bulan ini, kerana orang yang ingin melakukan kerja-kerja da’wah Islam ini harus menjalani tarbiyah puasa yang lebih kerap dan secara konsisten agar dapat memelihara hati, ruhiyyah, kecergasan jasmani, dan kecerdasan ‘aqal.


Rasulullah SAW telah bersabda yang bermaksud: 
“Berpuasalah nescaya kamu akan sihat.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)
Surah al-Baqarah: ayat 183
“Wahai orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa seperti diwajibkan atas orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.”

Puasa dapat merapatkan hubungan sang da’ie dengan Rabb yang sangat dicintainya. Puasa sunat maksima yang dapat diamalkan adalah berpuasa selang sehari, khasnya para du’at fisabilillah.


Rasulullah SAW menegaskan dengan sabdanya yang bermaksud:
“Tiga orang yang doanya tidak akan ditolak; pemimpin adil, orang berpuasa sehingga dia berbuka dan orang yang teraniaya.” (Riwayat Ahmad, al-Nasai, al-Tirmizi dan Ibnu Majah)

Pengakhiran,
Surah as-Sajdah: ayat 15
Sesungguhnya Yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan Kami hanyalah orang-orang Yang apabila diberi peringatan dan pengajaran Dengan ayat-ayat itu, mereka segera merebahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah Dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takbur.
"Mari Bersama Kita Meraih Redha dan SyurgaNya" 




"Makananku daripada sisa makanan yang dibuang berterabur diatas lantai kotor..." 


"Antara hikmah puasa adalah supaya kita merasai kelaparan yang dialami manusia lain kerana ketiadaan makanan yang memerlukan kita menyumbang untuk membantu mereka yang susah disekeliling kita"


Akta Halal Tidak Wujud didalam Perlembagaan Malaysia



Antara syarat untuk mendapatkan logo halal JAKIM adalah sebuah pernigaan itu harus mempunyai pusat operasi penghasilan produk yang memenuhi spek/ciri-ciri sebuah kilang, antaranya seluruh kawasan lantai dan dinding wajib dipasang jubin.

Ini menghadkan kepada pengusaha muslim yang tidak punyai modal besar untuk memenuhi spek itu. Kelihatannya JAKIM lebih kepada bertunjangkan industri, dan bukan bertunjangkan prinsip Islam agama yang mudah.

Maka kita mungkin akan dapati produk-produk muslim yang dihasilkan secara kecil-kecilan tidak mempunyai logo JAKIM. Pembeli hanya bergantung kepada kepercayaan kepada pengeluarnya yang berintegriti sebagai individu atau syarikat muslim.


Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud:
"Ketahuilah bahawa dalam jasad itu ada segumpal darah, apabila ia baik maka akan baiklah seluruh tubuh badan dan apabila ia rosak maka akan rosaklah seluruh tubuh badan. Ketahuilah ia adalah hati."


Bahaya makanan yang tidak halal dan baik apabila masuk menjadi darah daging masyarakat Islam dimana jua khasnya di negara Malaysia ini, kesannya adalah hati-hati masyarakat Islam akan menjadi keras untuk menerima perkara-perkara baik daripada Islam sebagai sebuah cara hidup yang menyeluruh dan sangat sempura. Islam bukan sebuah 'religion' seperti yang didakwa yahudi/nasrani si penyeleweng kebenaran khasnya di barat.

Usaha desakan agar satu akta untuk makanan halal diwujudkan telah dilakukan tetapi sehingga kini tiada hasil yang dapat kita lihat pada akta negara Malaysia. Mungkin satu kumpulan khas perlu diwujudkan bagi menyuarakan secara berterusan dan mungkin kumpulan ini boleh menyediakan beberapa panduan tindakan yang harus diambil oleh kerajaan persekutuan dalam menangani masalah makanan halal yang amat penting dalam menjamin masyarakat yang sihat hati sekaligus akal, jasmani dan terutama sekali adalah akhlak.

Pujangga Arab mengatakan:
"al-'Aqlu as-Salim fi al-Jism as-Salim"
Maksudnya: Akal yang sejahtera datangnya dari badan yang sihat.

Badan yang sihat dan baik adalah datangnya dari makanan yang halal dan baik disisi Allah s.w.t.

Tambahan lagi, hanya ENAM (6) orang yang ditugaskan bagi memantau logo halal ini. Ini suatu yang amat ketara bahawa isu ini diambil ringan. Sebaiknya paling sedikit pun, SATU (1) Daerah, SATU (1) Pemantau/penguatkuasa. Masalah perlaksanaan ini adalah hasil samaada atas kemalasan pihak terbabit atau semangnya diarahkan untuk mengendahkan perlaksanaan ini kerana agenda penguasaan Yahudi/nasarani keatas kerajaan persekutuan. Wallaahu-'alam.

Satu kes sebagai contoh, sebuah syarikat pengeluar ayam telah memberi ayam-ayam ternakannya memakan makanan berbentuk pallet. Makanan berbentuk pallet itu mempunyai unsur babi. Setelah dilaporkan, sijil logo halal syarikat terbabit ditarik balik. Syarikat itu telah mengubah makanan ayam-ayam ternakannya kepada makanan yang dibenarkan. Seminggu kemudian syarikat tersebut mendapat kembali sijil halal. Seharusnya dalam perkara ini, sekiranya terdapat akta di negara Malaysia ini berhubungan makanan halal, maka syarikat yang melanggar akta ini akan disita selama tempoh masa yang cukup bagi memperbaiki keadaan. Tempoh seminggu merupakan suatu simbol masalah ini dipandang enteng oleh pihak berkuasa. Ayam-ayam yang telah memakan makanan yang mempunyai unsur babi sewajibnya diasingkan dan diharamkan terus bagi masyarakat muslim dan hanya boleh dijual kepada non-muslim. Dukacitanya apa yang berlaku selanjutnya tidak diperjelaskan. Ini membawa kepada syubhah.

Maka sebagai tidakan individu masyarakat muslim. Demi menjaga hati kita yang merupakan raja pemerintah didalam diri kita haruslah kita membeli ayam dari sumber yang diyakini.Ini bagi memelihara diri kita daripada menjadi keras hati dalam menerima petunjuk daripada Islam sebagai cara hidup yang sempurna. Kegagalan melakukan ini merupakan antara faktor masyarakat pada hari ini umumnya mengalami banyak masalah sosial yang begitu meruncing dan amat merisaukan.

"Bersama Islam kearah Malaysia Aman & Sejahtera"


Wallaahu-'alam.

Contoh Muttoba'ah (Tarbiyah Checklist) (Manual Tarbiyah)




4.30am Doa bangun tidur, Sugi, kendiri, Tahajjud, Taubat, Hajat, witir
5am Hafaz Quran, hafaz hadith, Sahur
6am Qobliah, Subuh, Maahurat, Al-Quran, Istighfar
7am Riadhah Qowiyyul Jism
8am
9am
10am Dhuha, Al-Quran
11am
12pm
13pm Qobliah, Zohor, ba'diah, Istighfar
14pm
15pm
16pm Qobliah, 'Asar, Maathurat, Istighfar
17pm
18pm Riadhah Qowuyyil Jism
19pm Maghrib, Ba'diah, Istighfar
20pm Qobliyah, Isya', Ba'diah, Istighfar
21pm
22pm
23pm
24am
1am Baca buku
2am
3am 3 qul, wirid fatimah, Doa tidur, Tidur/Naum


1 hari 70 istighfar - max 100
1 minggu 1 qiamullail - max setiap hari
1 minggu 1 puasa - medium isnin khamis - max setiap hari
1 minggu 1 juzuk Al-Quran - max 1 hari 1 juzuk
1 minggu 1 buku - max 2 hari 1 buku
1 minggu 1 surah hafazan - max 1 hari 1 mukasurat, atau 1 surah
     atau   1 muka surat hafazan
1 minggu 1 hadith hafazan - max 1 hari 1 hadith

Kekalkan diri dalam keadaan berwudhu'
Sentiasa berzikir/Selawat

Wallaahu-ta'ala-'alam.

Sajak Adik Adi Putra - "Ayuh Bertemankan Islam"






Akulah Adi Putra
Melayu tdk penah lupa

duduk tahun satu rasanya tersiksa
tiada siapa peduli
tetapi aku bisa bedakan


ilmu Allah bagi dan ilmu diajar guru bermula dengan
‘A’, ‘B’, C ,’one’, ‘two’, ‘three’, ‘alif’, ‘ba’, ‘ta’

di mana trillion di manakah billion,
di mana tahfiz Al Quran
di mana doa2 para nabi para wali


untuk apa aku disini

aku berfikir rasional
aku berfikir international
pandai aku bijak aku comel aku
hanya untuk ditonton diuji dan dipuji


aku malu
alangkah ruginya mereka
untuk apa semua ini
di mana mata hati mereka?

pujian biar bertempat
marah bila bersopan
kurang ajar biarlah berbudi bahasa



tersirat mereka tak nampak
tersurat sahaja mereka lihat
di mana silapnya



Rasulullah memimpin ummah
hebatnya baginda
pimpinlah aku
doakanlah aku



aku punya cita-cita
aku punya idola
barangkali aku kecil mereka
hanya ketawa



Allah maha perkasa
tahfiz Al Quran itu hebat
Hafaz Yaasin itu penerang hati
matematik itu tunjang ilmu



ayuh bangsaku bangunlah
kita bertemankan islam
kita penuhkan ilmu didada
kita jadikan melayu hebat di persada dunia


bersamaku adi putra
akulah modal insan
anak melayu jati
wawasan 2020



takkan melayu hilang di dunia
pantang melayu menderhaka pada sultannya
pemuda harapan bangsa
pemudi tiang negara

mengapa bersembunyi diri di sebalik ibu pertiwi
sejengkalpun tanahairku dijajah
biar putih tulang jangan putih mata..

Kata Nabi Isa kepada Penganut Kristian




Allah Berfirman di dalam kitab Al-Quran:


Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: " Bahawasanya Allah ialah Al-Masih Ibni Maryam". padahal Al-Masih sendiri berkata: "Wahai Bani Israil! (Wahai yang mengaku penganut Kristian) Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu...


(Surah Al-Maidah: ayat 72)

Surah Al-Maidah : ayat 35
Firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman (mukmin) ! Bertakwalah kepada Allah dan CARILAH WASILAH (jalan) untuk mendekatkan  (taqorrub) diri kepada-Nya, dan Berjihadlah (berjuanglah) dijalan-Nya, AGAR KAMU BERUNTUNG.



Ayyuhal Da'ie... La Tahzan (Wahai Para Pendakwah... Janganlah bersedih)

Surah Al-Maidah : ayat 26
Firman Allah: Janganlah engkau (Musa) bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.

Surah Al-Maidah: ayat 41
Firman Allah: Wahai Rasul (Muhammad)! Janganlah engkau disedihkan kerana mereka berlumba-lumba dalam kekafiranya.Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, "Kami telah beriman," padahal hati mereka belum beriman;.......... Barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya). Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka.

Imam Al-Banna berkata tentang tsabat:

“Hendaknya seorang akh. Menjadi orang yang aktif dan selalu berjuang di jalan menuju Nya; sekalipun masa yang ditempuh masih panjang hingga bertahun-tahun dan berabad-abad lamanya; sehingga dirinya berjumpa dengan Allah dalam kondisi demikian sedangkan ia mendapatkan keberuntungan pada salah satu dari dua kebaikan; mencapai tujuan yang diinginkan atau mendapat syahadah hingga akhir.

Allah berfirman: “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)”. (Al-Ahzab:23)

Menurut kita, waktu ini akan sentiasa berjalan, walaupn jalan sangat panjang, kejayaan masih jauh dan banyak rintangan menghadang, namun intinya adalah bagaimana kita dapat menuju satu tujuan disertai dengan ganjaran yang besar dan pahala yang berlipat ganda dari ALLAH, maka tidak ada kata henti dari PERJUANGAN ayuh terus kita merobohkan benmteng kezaliman”.